Mengenal Srimpi, Tarian Sakral Kenaikan Tahta Sultan

Sources: Nyi KRT. Pujaningsih Baoesastra Djawa, Poerwadarminta. Ensiklopedi Kraton Yogyakarta, Dinas Kebudayaan DIY

Yogyakarta memiliki akar budaya Jawa yang begitu kuat, termasuk dalam hal seni tari. Salah satunya, Tari Srimpi yang merupakan tarian sakral saat Sultan naik tahta.

Dikutip di laman sosial media Facebook Kraton Jogja, tarian ini juga pada tarian bedhaya merujuk pada Sentana Dalem penari putri.

“Sehingga muncul kelompok Abdi Dalem Bedhaya Srimpi,” ujar Kraton.

Tarian ini dibawakan oleh empat penari, sedang Bedhaya sibawakan sembilan penari. Keduanya merupakan tarian sakral yang dibawakan saat kenaikan tahta Sultan.

“Walau demikian, peranan dari masing-masing penarinya bersifat homogen, tidak seperti penari bedhaya yang memiliki peran heterogen. Posisi dari para penarinya lebih diidentikkan dengan konsep kiblat papat, atau empat arah mata angin,” ungkapnya.

Perkembangan tarian ini terjadi pada masa HB V. Sultan ketika itu menciptakan Tari Srimpi baru yakni Srimpi Renggawati dan Srimpi Ringgit Monggeng Kelir.

“Tari Srimpi Renggawati yang dibawakan oleh 5 orang penari ini dianggap sakral. Kisahnya diambil dari cerita Prabu Angling Darma yang menjelma menjadi meliwis putih untuk mencari titisan Dewi Setyowati/Renggawati,” tutupnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *