Agama dan Etnis Bukan Penyebab Konflik

Sumber: Wikipedia.org

Peluncuran buku Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia karya Dr Samsu Rizal Panggabean di UGM mengemukakan pemikiran menarik. Menurut Dr Samsu Rizal sendiri, agama dan etnis bukanlah penyebab kemunculan kekerasan dan konflik.

“Pemilahan etnis bukan sebab tapi justru kekerasan menjadi penyebab munculnya pemilahan etnis sehingga yang nampak di luar adalah konflik Islam dan Kristen atau konflik pribumi dan Tionghoa,” Samsu Rizal seperti dikutip ugm.ac.id dalam peluncuran buku Konflik dan Perdamaian Etnis di Indonesia, Jumat (7/() di UGM.

Turut serta dalam diskusi tersebut dosen peneliti resolusi konflik UGM Diah Kusumaningrum,SIP., MA., pendeta Jacky Manuputti, dan Guru Besar Fisipol UGM, Prof. Mohammad Mohtar Masoed. Rizal mengungkapkan penelitian tentang konflik ini menggunakan perspektif yang berbeda yang ditelitinya dari 1990 hingga 2003.

Rizal menemukan kekerasan etnis dan komunal terjadi di 15 kabupaten di Indonesia. Atau dengan kata lain 6,5% dari seluruh jumlah populasi masyarakat Indonesia.

“Apabila disebutkan penyebabnya dari tingkat nasional seharusnya konflik etnis tidak hanya pada 6,5% populasi,” ujar Diah Kusumaningrum yang juga menjadi tim editor buku tersebut.

Melalui metode perbandingan berpasangan, penelitian dilakukan di kota besar seperti Ambon, Manado, Palu, Jogja, Solo dan Surabaya.

“Antara dua kota diteliti secara berpasangan di tempat terjadinya kekerasan etnis,” imbuhnya.

Hasil dari penelitian tersebut, tokoh agama seperti di Manado mampu meredam konflik bahkan hingga peran sopir angkot yang juga berperan aktif. Temuan juga ada di kota Jogja-Solo, dimana ada perlakuan berbeda aparat keamaanan dalam meredam konflik.

“Di Solo, tentara dan polisi tidak melakukan tugas pengamanan sebagaimana mestinya, meski warga Tionghoa yang sudah meminta bantuan. Di Jogja, aparat keamanan menjalankan kemananan sesuai dengan fungsinya karena aparat menganggap demonstrasi yang dilakukan mahasiswa tidak sampai membuat keadaan menjadi genting, bahkan warga Tionghoa bekerja sama meminta aparat mendirikan pos penjagaan di depan rumah mereka,” jelasnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *