Labuhan Merapi 2018, Nasi Gurih Hingga Surono

Labuhan di gunung Merapi kembali digelar. Prosesi acara dari pagelaran wayang kulit hingga acara puncak menandakan tradisi ini masih lekat di masyarakat Yogyakarta.

Acara lebih dulu diawali dengan upacara Sugengan dan Macapatan di rumah juru kunci Merapi, Mas Kliwon Surakso Hargo (Putra alm. Mbah Maridjan) Senin malam (16/4). Tujuannya, memohon kelancaran acara Labuhan di esok harinya.

Setelah acara Sugengan selesai, dilanjutkan dengan pagelaran wayang kulit semalam suntuk. Pakar Vulkanologi, Surono, turut hadir untuk membuka Pagelaran Wayang.

Acara pagelaran yang diinisiasi warga ini sepertihalnya simbol acara-acara tradisional, merupakan ungkapan syukur ke Tuhan yang Maha Esa. Keselamatan warga disisipkan sebagai tujuan acara-acara ini kepada warga yang datang.

Pagelaran wayang kulit didalangi oleh Ki Edi Suwondo dari Sleman. Acara berlangsung meriah, buktinya area pertunjukan dipenuhi oleh warga yang ingin menyaksikan Pagelaran wayang kulit yang saat ini semakin lama semakin jarang dijumpai.

Pada keesokan hari di acara puncak, persiapan ubarampe Labuhan Merapi mulai terlihat, ” Khusus Tahun Dal yang dilaksanakan setahun sekali, ada replika pelana kuda HB I yang disebut “Kambil Watangan” ujar akun resmi Kraton Yogyakarta @kratonjogja, Selasa (17/4).

Ubarampe yang sudah dipersiapkan dibawa oleh pada Abdi Dalem ke lokasi pelaksanaan labuhan, Srimanganti. Jauhnya sekitar lima kilometer yang dilakukan dengan tanpa alas kaki.

“Setelah prosesi Labuhan Merapi selesai, para Abdi Dalem Keparak membungkus dan membagikan nasi gurih bercampur srundeng dan suwir ayam kepada masyarakat yang datang sebagai perwujudan berkah,” imbuhnya.

Acara Labuhan berakhir di siang hari sekitar pukul 11 siang. Juru kunci juga masyarakat kemudian turun menuju petilasan Mbah Maridjan.

Sumber Gambar: Twitter @kratonjogja

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *