Berkesenian di Tengah Kota Bantul

Hujan hampir tiap malam mengguyur kota di selatan Yogyakarta, Bantul. Hampir sama seperti daerah kabupaten lain, denyut nadi tidak ramai lagi menjelang pukul 9 malam, apalagi ketika hujan.

Namun, ada sudut berbeda ketika menilik sebuah kafe pinggir jalan daerah Gose. Anak-anak muda berkumpul berkegiatan seni sastra. Mereka menamakan Selasa Sastra yang digelar minggu ketiga setiap bulan.

“Tema kita hari ini Matahari di Bulan Januari,” ujar Tedi, pegiat sastra di Bantul yang tampil penuh dengan senyum di malam itu, Selasa (16/1).

Beberapa orang menampilkan puisi secara bergiliran. Dari anak-anak muda dengan iringan gitar sampai dengan gerakan-gerakan indah diiringi musik, semuanya berekspresi.

Acara yang nyantai dengan hidangan gorengan ini kemudian dilanjutkan dengan pertunjukan dua bule asal Eropa yang hadir kala itu. Satu laki-laki dari Spanyol dan satu lagi perempuan dari Lithuania, diiringi mbak Nunung, kawan mereka.

Dua puisi yang dibacakan bule Lithuania menggunakan bahasa asing, bukan bahasa Inggris. Hampir tidak ada yang tahu maknanya setelah mbak Nunung bertanya makna arti puisi tersebut. Perihal ingatan anak kepada seorang ibu dan sepasang remaja yang terbakar asmara.

Cerita dari Spanyol

Yang menarik adalah cerita yang dibawakan bule Spanyol yang menurutnya bersumber dari ayahnya. Baru akhir-akhir ini dia tahu makna cerita dari orangtuanya tersebut.

Ceritanya ada seekor burung yang berada di ranting di musim dingin. Begitu dinginnya sehingga sayapnya tidak bisa mengepak dan alhasil jatuh ke tanah.

“Kemudian ada seeokor sapi yang lewat di samping burung yang kedinginan,” ceritanya.

Sang sapi kemudian mengeluarkan kotoran yang mengenai burung. Kotoran yang hangat dari sang sapi ternyata membuat burung menjadi lebih baik dan akhirnya bisa mengepak sayap dan terbang.

“Ada seeokor elang yang melihat burung,” lanjutnya.

Sang burung yang mulai bernyanyi tersebut akhirnya mati disambar oleh elang. Ada tiga pesan menurutnya dalam cerita ini.

“Pertama apa yang orang lakukan jahat belum tentu jahat baginya. Kedua apa yang orang lakukan baik belum tentu baik baginya,” terangnya.

Ketiga, apapun yang orang lakukan kepada kita hendaknya kita terus jalani. Itulah akhir kesimpulan cerita pendek tersebut.

Cerita yang disampaikan bule tersebut sontak mendapat sambutan meriah pengunjung. Secara tidak langsung cerita tersebut tertanam dan menjadi pengetahuan yang diturunkan dari orang ke orang.

Pertunjungan Selasa Sastra kemudian dilanjutkan dengan seni teatrikal dari mbak Nunung. Melodi yang indah diiringi oleh mbak Nunung dengan gaya dan gerak gerik yang indah pula.

Selasa Sastra, sebuah pentas sastra Indonesia dan Jawa mencoba menggali potensi berkesenian anak muda. Bukan di kota besar, tapi di kota Kabupaten yang memang semestinya seni masih lestari dan membutuhkan penerus dari generasi muda.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *