Resiko Bahaya Pembangunan Bandara NYIA Yogyakarta

Sumber: Pemkab Kulon Progo

Sedari awal, pembangunan New Yogyakarta International Airport (NYIA) menuai pro kontra. Mulai dari pembebasan lahan hingga resiko bencana di lokasi saat ini, pesisir pantai Kulon Progo.

Dihimpun dari pernyataan YLBHI dan 15 Kantor LBH Se Indonesia, ada beberapa alasan NYIA memiliki resiko besar akan bencana.

“Bicara deskripsi rona lingkungan hidup awal (environmental setting) yang pada dasarnya merupakan kawasan rawan bencana alam tsunami (kawasan lindung geologi),” ujar Ketua Bidang Manajemen Pengetahuan YLBHI Siti Rakhma Mary H dalam keterangan kepada media, Senin (4/12).

Terlebih lagi, secara prosedural proses studi amdal itu tidak dilakukan pada tahapan yang semestinya. AMDAL tidak disusun terlebih dahulu sebagai pra syarat menerbitkan SK Gubernur DIY Nomor 68/KEP/2015 tentang Penetapan Lokasi Pembangunan Bandara Untuk Pengembangan Bandara Baru di DIY.

“Yang terjadi malah melompat jauh ke tahapan groundbreaking dan bahkan sudah masuk ke tahapan kontruksi (mobilisasi alat),” ujarnya.

Perda Provinsi DIY Nomor 2 tahun 2010 tentang RTRW DIY pun penyebutkan sepanjang pantai di Kulon Progo rawan tsunami. Lebih detail lagi Perda Kabupaten Kulon Progo Nomor 1 Tahun 2012 Tentang RTRW Kabupaten Kulonprogo menyebutkan Kecamatan Temon sebagai kawasan rawan tsunami.

“Bahkan tim peneliti Pusat Geoteknologi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia menemukan deposit tsunami di dekat bakal lokasi bandar udara baru di Yogyakarta,” tambahnya.

Seperti yang pernah ditulis harian Kompas, Selasa 25 Juli 2017, Deposit tsunami itu diperkirakan berusia 300 tahun, seumuran jejak pantai selatan Banten dan Jawa Barat.

“Potensi gempa di kawasan ini, berdasarkan sebaran deposit tsunaminya, bisa di atas M9,” imbuhnya.

YLBHI dan 15 kantor LBH se Indonesia dalam tuntutannya salah satunya adalah pemberhentian seluruh tahapan pengadaan tanah untuk NYIA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *